Skip to main content

Kita Butuh Harapan di Hari-Hari Seperti Ini

Paket Buka Puasa 10.000 Dari Sebuah Warteg
Di tengan situasi mencekam akibat Corona, di tengah suasana berbangsa penuh nyinyiran terhadap mereka-mereka yang sibuk mengayuh dayung perahu negeri ini, di tengah kesulitan hidup yang mulai terasa, muncul sebuah warteg di Pondok Labu, Jakarta, yang menyediakan Paket Berbuka Puasa Murah Meriah.
BUKA PUASA, PAKET NASI SAYUR. Rp. 10.000.
BOLEH BAYAR. BOLEH TIDAK BAYAR.
Mungkin itu satu-satunya warteg yang demikian di masa yang sangat muram ini. Tapi dari sana bisa ditarik sebuah cerita. Kita pernah dengar istilah “shared poverty” — berbagi kemiskinan — dalam apa yang disebut sebagai “involusi pertanian” di Jawa. Ini mungkin bisa jadi kasur tipis untuk mengurangi sakitnya jatuh dalam kehidupan yang sekarang goyah diguncang pandemi ini.
buka puasa
Ruslani, teman saya, seorang pedagang kaki lima di Kota Tua yang sudah mudik ke Pantura tiga pekan yang lalu bercerita: dia yang kehilangan nafkah, di desanya dibantu untuk makan oleh sanak saudara. Di desa itu ada karantina dan yang mudik harus menjalani testing. Dia punya sedikit tanah. Di sana ia mulai menanam bahan pangan.

Sopir saya, Bubun, ke Jawa Tengah tanggal 23 April, sehari sebelum mudik dilarang. Dia pulang ke satu desa di Kebumen, tempat anak istrinya. Kini ia masuk karantina desa bersama 10 orang lain. Semua lelaki. Karantina untuk perempuan ada tempatnya tersendiri. Tempatnya di balai desa, yang cukup besar. Tak berjejal. Dapat makan. Ada dokter puskesmas. Semua ditest dan sejauh ini negatif. Tapi tetap harus dikucilkan selama 14 hari.

Dari sohib saya, Endo Suanda, semalam saya dapat sedikit gambaran keadaan desa di Majalengka. Di sana musim panen. Ini memungkinkan mereka yang menganggur dibagi kerja.

.Jika ini pola yang umum, ada harapan. Sekali lagi, karena ada kemauan berbagi, yang begitu wajar. Mereka, umumnya kaum intelektuil kota, yang tak pernah hidup di pedesaan, tak pernah dekat dengan kemiskinan, sering jadi alarmis, cemas, nyinyir. Saya tak segera mengatakan bahwa keadaan akan lebih baik. Tapi jika kita butuh harapan di hari-hari seperti ini, kita perlu menyaksikan bagaimana di lapisan bawah, yang terbiasa dengan hidup yang genting, dapat dengan lebih tenang menghadapi krisis.

Artikel ini diambil dari tulisan Goenawan Mohamad di halaman facebooknya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar
-->